Sawah Pokok Murah: Inovasi Ramah Lingkungan yang Bangkitkan Pertanian Solok Selatan

Praktek lapangan usai dibekali pelatihan dan pendidikan penanaman padi dengan sistem M-TOT atau sawah pokok murah di lahan pertanian di Lubuk Gadang Selatan. (Adi/Kopasnews.com)
Praktek lapangan usai dibekali pelatihan dan pendidikan penanaman padi dengan sistem M-TOT atau sawah pokok murah di lahan pertanian di Lubuk Gadang Selatan. (Adi/Kopasnews.com)

 

 

Solok Selatan,Kopasnews.com – Di tengah tantangan pertanian modern yang semakin bergantung pada pupuk kimia dan biaya tinggi, angin segar datang dari Kabupaten Solok Selatan. Inovasi sistem pertanian Sawah Pokok Murah (SPM) mulai menarik perhatian banyak pihak karena mampu memadukan keberlanjutan lingkungan, efisiensi biaya, dan pemberdayaan petani lokal.

 

Program ini digagas oleh Wahana Lingkungan Hidup Indonesia (WALHI) Sumatera Barat yang berkolaborasi dengan Kelompok Pecinta Alam (KPA) Winalsa serta para penyuluh pertanian setempat. Mereka mengembangkan metode bertani berbasis Mulsa Tanpa Olah Tanah (M-TOT), di mana jerami sisa panen dijadikan pupuk alami, menggantikan ketergantungan terhadap pupuk kimia.

Berita Terkait:

KPA Winalsa: Program Sekolah Lapangan Agroforestry Perhutanan Sosial Untuk Pemulihan Ekonomi

“Dari data kami, Pemerinatah menggelontorkan subsidi pupuk sebesar Rp142 miliar untuk 11.500 ton di Solok Selatan pertahun, sementara petani masih harus membayar Rp27 miliar. Padahal dalam jangka panjang, penggunaan pupuk kimia berlebihan justru merusak struktur tanah,” ungkap Wengki Purwanto, Direktur Eksekutif WALHI Sumatera Barat.

 

Kolaborasi yang terbangun antara masyarakat, WALHI, KPA Winalsa, dan Pemkab Solok Selatan menjadi bukti bahwa masa depan pertanian tak harus mahal atau merusak alam. Dengan semangat gotong royong dan inovasi lokal, pertanian ramah lingkungan kini bukan lagi wacana, melainkan kenyataan yang tumbuh dari akar rumput.

,SPM bukan hanya soal teknik bertani murah, tetapi juga menjadi gerakan sosial dan ekologi. Ketua KPA Winalsa, Hendri Syarif, menekankan bahwa pendekatan ini bukan sekadar proyek pendampingan, melainkan kerja bersama membangun kesadaran dan kemandirian petani.

 

“Kami tidak datang sebagai pembina. Kami bekerja bersama petani untuk memperkenalkan sistem yang bisa mereka jalankan sendiri. Modal minim, hasil maksimal, dan lingkungan tetap lestari,” jelasnya.

 

Lewat pondok belajar pangan yang dikelola oleh Gapoktan lokal, sistem ini dipraktikkan langsung di lahan seluas setengah hektare. Metodenya sederhana namun berdampak besar: tanpa olah tanah, tanpa pupuk kimia, namun tetap produktif dan menguntungkan.

Berita Terkait:

Solok Selatan Siap Jadi Sentra Energi Terbarukan Nasional, Proyek Panas Bumi Capai Investasi 400 Juta Dolar

Kepala Divisi Wilayah Pengelolaan Rakyat WALHI Nasional, Uslaini menyebutkan bahwa metode ini merupakan bagian dari program Akademi Ekologi WALHI, tempat petani belajar, bereksperimen, dan mengevaluasi teknik pertanian rendah biaya.

 

“Kami ingin petani punya ruang belajar yang berbasis lokal, memakai benih asli daerah, dan menghasilkan pertanian yang sesuai dengan kondisi ekosistem mereka sendiri,” ujar Uslaini.

 

Sementara itu, Koordinator Penyuluh Kecamatan Sangir, Bahwanudin Batubara, menambahkan bahwa pendekatan ini telah membangkitkan semangat petani untuk kembali mengelola lahan mereka. Dari 11.500 hektare lahan pertanian sawah di Solok Selatan, 41 hektare kini mulai dihidupkan kembali lewat sistem SPM.

 

“Kebanyakan petani enggan mengolah sawah karena biaya tinggi. Tapi dengan metode ini, beban biaya jauh lebih ringan. Kami harap lebih banyak lahan kembali produktif,” ucap Bahwanudin. (adi)