Fantastis, Ekspor Minyak Kelapa Sawit Indonesia Tembus 25 Juta Ton

Foto : Reuter
Foto : Reuter

 

Jakarta, kopasnews.com – Ekspor minyak kelapa sawit (crude palm oil/CPO) mencapai 25 juta ton. Salah satu tujuan ekspor terbesar adalah Rusia.

Data Badan Pusat Statistik (BPS) menunjukkan secara volume, ekspor CPO Indonesia pada 2022 melandai 2,4% menjadi 25, 01 juta ton. Sebaliknya, secara nilai, ekspor meningkat menjadi US$ 27,77 miliar. Nilainya naik 3,8% dari 2021 yang tercatat US$ 26,76 miliar.

Pasar CPO terbesar Indonesia masih dipegang India disusul kemudian dengan China, Pakistan, Amerika Serikat (AS), Bangladesh, dan Malaysia. Urutan berikutnya adalah Mesir, Rusia, Vietnam, dan Italia.

Dari 10 besar tujuan utama, kenaikan terbesar dicatatkan India yakni 61,83% sementara penurunan terbesar adalah Mesir yakni 34,4%.

Yang menarik, ekspor ke Rusia menembus 607.694 ton dengan nilai US$ 742,53 juta pada 2022.  Dari volume, ekspor Indonesia hanya turun 4,04% sementara dari nilai meningkat 12,3%.

Penurunan volume ekspor ke Rusia bisa dipahami karena ekonominya ambruk setelah perang Rusia-Ukraina meletus pada 24 Februari 2022.

Namun, penurunan tersebut terbilang kecil bila dibandingkan anjkloknya perekonomian Rusia.  Ekonomi Rusia masuk ke jurang resesi setelah mencatatkan kontraksi selama dua kuartal beruntun pada kuartal II dan III-2022.

CPO merupakan andalan ekspor Indonesia dengan kontribusi sekitar 19%. Lonjakan harga sawit membuat Indonesia panen durian runtuh.

Harga CPO bahkan sempat mencatat rekor pada 29 April 2022 di level MYR 7.110 per ton. Namun, harga CPO melandai menjelang akhir tahun 2022. Pada pekan lalu, harga CPO bahkan jeblok 5,2%.

Harga CPO mulai membaik pada pekan ini. Pada perdagangan Rabu (18/1/2023), harga CPO ditutup di posisi MYR 3.867 per ton. Harganya melonjak 1,9%.

Baca Juga : Harga Kelapa Sawit Kembali Alami Kenaikan

Pada awal perdagangan hari ini, harga CPO juga masih menguat. Pada perdagangan Kamis (19/1/2023) pukul 07: 20 WIB, harga CPO pada awal perdagangan ada di posisi MYR 3.884 per ton. Harganya menguat 0,44%.

Penguatan harga CPO lebih didorong oleh teknikal serta menguatnya harga minyak nabati lainnya. Contohnya, harga minyak kedelai naik 2,2%.

Harga CPO juga naik ditopang oleh ekspektasi kenaikan permintaan dari China dan periode Ramadhan.

China semakin melonggarkan kebijakan Covid-19 dan kebijakan tersebut diharapkan meningkatkan aktivitas ekonomi mereka.

Sementara itu, Ramadhan yang akan jatuh pada Maret 2023 akan meningkatkan permintaan dari Indonesia, Malaysia, hingga India. (*)
Sumber CNBC Indonesia.