Bupati Kecewa dan Prihatin Dengan Kondisi Fasilitas Goa Batu Kapal Terkini

Bupati Solsel dan rombongan meninjau kondisi Goa Batu Kapal

Bupati Solok Selatan meninjau kondisi terkini destinasi wisata alam Goa Batu Kapal (GBK) yang sudah mendapatkan penghargaan nasional nominasi Anugerah Pesona Indonesia (API) award 2021.

Dilapangan Bupati menemukan banyak sarana dan prasarana yang sudah dibangun oleh Pemerintah sudah rusak dan lapuk, seperti jembatan penghubung antar goa yang terbuat dari kayu. Termasuk alunan didepan pintu goa kayunya pun sudah berjatuhan ke lantai.

“Kita lihat jembatan kayunya sudah lapuk, infrastrukturnya jalannya masih tanah. Belum ada aliran listrik dan sarana lainnya yang memprihatinkan. Saya dan pak Wabup kecewa dengan kondisi seperti ini,” ungkap Bupati Solok Selatan, Khairunas didampingi Wabup Solsel, Yulian Efi dan rombongan OPD, Selasa (4/1/2022) di Goa Batu Kapal.

Selama 8 bulan menjabat kepala daerah, Bupati mengaku baru pertama kali ke Goa Batu Kapal yang sudah menasional dan mendunia.

Wajangan gambar dan bentuk photo goa yang indah, unik, dan menarik pengunjung. Tersebar di media cetak, online dan elektronik. Termasuk spanduk-spanduk pemerintah daerah, dan di media sosial. Tapi fisik fasilitas pendukung goa memprihatinkan.

“Fasilitasnya dibiarkan saja oleh Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Solsel dan tidak terurus. Saya berkunjung dengan seluruh OPD ke goa, tapi Kadis Pariwisatanya tidak hadir. Saya sangat dan sangat kecewa,” ungkap Bupati usai kunjungan.

Kondisi fasilitas pergola yang rusak termasuk dua jembatan boardwork Goa Batu Kapal

Kalau seperti ini pariwisatanya mengecewakan pengunjung, ada dua jembatan penghubung goa 2 dan goa 3. Semestinya harus diurus dengan baik, akan tetapi lepas begitu saja.

Goa ini sudah mendapatkan penghargaan nasional kategori surga tersembunyi dari Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif.

“Padahal goa batu kapal ini merupakan simbolnya pariwisata Solok Selatan dan Sumbar. Dan ini tidak boleh seperti ini,” terangnya.

Bupati mengaku di tahun 1986 dia pernah mengeloh kayu di lokasi Goa Batu Kapal itu. Ini tanah fuso dan belum bertuan. Sekarang harus dikembalikan ke nagari dan bagi masyarakat yang sudah terlanjur menanam sawit. Meski harus ada fee untuk Pendapatan Asli Nagari (PAN).

Bupati meminta pihak Kecamatan Sangir Balai Janggo dan Nagari Sungai Kunyit Barat untuk pembebasan lahan dikiri kanan jalan menuju Goa Batu Kapal.

“Akhir Januari 2022 ini harus dituntaskan pembebasan lahannya. Konsep pariwisata jalannya harus dibenahi, sehingga pengunjung lebih nyaman. Termasuk pembenahan fasilitas pengunjung,” terangnya.

Wali Nagari Sungai Kunyit Barat, Harmaini Said mengayatakan, terkait pembebasan lahan pembangunan jalan menuju goa batu kapal ini, akhir Januari 2022 sudah bisa diserahkan ke Pemkab Solok Selatan.

“Kita bersama Camat Sangir Balai Janggo, komitmen untuk pembebasan lahan seperti diminta Bupati,” terangnya.

Kepala Dinas Pariwisata Pemuda dan Olahraga Solok Selatan, Harry Trisna menyebutkan, pengelolaan destinasi wisata alam Goa Batu Kapal akan di kelola Nagari melalui Bumnag Nagari.

Dalam waktu dekat akan dirapatkan dengan Badan Pengelolaan Daerah melalui Bidang Aset bagian hukum dan Camat Sangir Balai Janggo.

“Fasilitas yang rusak tersebut jembatan boardwork dan pergola. Anggarannya pembangunannya dulu sebesar Rp1,2 miliar, itu termasuk kios cendramata, parkir dan panggung seni,” pungkasnya. (Adi)