Permasalahan Invetasi Perkebunan Kelapa Sawit di Solsel

Plt Kadis DPMPTSP Solsel Firdaus Firman

Padang Aro, Kopasnews.com– Permasalahan investasi perkebunan kelapa sawit di Kabupaten Solok Selatan, Sumatera Barat, mulai menemukan titik terang.

Pihak perusahaan PT. Multikarya Sawit Prima (MSP) komitmen akan merawat kembali perkebunan plasma sawit yang sudah ditanam, termasuk lahan Hak Guna Usaha (HGU) yang masih kosong akan diisi kembali. Hal ini sudah lama diharapkan oleh Koperasi Serba Usaha (KSU) Lubuk Ulang Aling, Kecamatan Sangir Batang Hari.

“Direktur MSP siap melakukan perawatan perkebunan plasma sawit dan ini hasil pertemuan dengan Pemkab, DPRD Solsel bersama Kementerian terkait,” kata Plt Kepala Dinas Penanaman Modal Pelayanan Satu Pintu (DPMPTSP) Solok Selatan, Firdaus Firman, Kamis (9/12/2021) dikantornya.

Dari 6.527 hektar HGU perusahaan itu, lahan yang sudah ditanami kelapa sawit seluas  2.286 hektar di tahun 2011 lalu. Seluas 2.247 hekar lagi berpotensi untuk ditanami kembali, dan sisanya masuk areal yang tidak bisa ditanam.

Dampak dirasakan pihak Koperasi ketika plasma kelapa sawit tidak dirawat, produksi akan jauh menurun, peluang lapangan pekerjaan pun berkurang, dan koperasi sulit untuk melakukan pencicilan hutang plasma sawit.

Koperasi akan menanggung kredit refinansial di Bank sebesar Rp 49 miliar, terhitung sejak Februari 2019 lalu dengan objek aggunannya kebun plasma seluas 830 Ha.

“Mudahan saja fasilitasi tahap ke dua dengan perusahaan berjalan dengan lancar, sehingga invetasi perkebunan kelapa sawit MSP kembali berjalan normal,” paparnya.

“Sekarang sudah ada langkah maju, Direkturnya mau bertemua dengan Bupati, Ketua DPRD dan Kementerian terkait. Sebelumnya, alangkah sulitnya untuk dikomunikasikan terkait persoalan ini,” terang Firdaus Firman.

Dia mengatakan, pihak KSU di Lubuk Ulang Aling sangat berharap adanya fasilitasi dan media dari Pemkab Solsel, sehingga ribuan hektar lahan HGU yang berpotensi ditanam. Akan diisi kembali dengan kelapa sawit.

Termasuk pengelolaan lahan sawit yang sudah ditanam berjalan normal, yang dapat menambah lapangan pekerjaan dan pihak Koperasi bisa melakukan penyicilan hutang plasma.

“Alasan pihak perusahaan, karena pandemi mereka kesulitan untuk melakukan perawatan plasma sawit dan permintaan lainnya dari koperasi,” pungkasnya. (Adi)