11 Kriteria Nagari Tageh Dalam Pembinaan NDC


Solok Selatan, Kopasnews.com– Kehadiran Nagari Development Center (NDC) Universitas Andalas (Unand) ke sejumlah daerah di Sumatera Barat, untuk membina, mendampingi nagari dalam percepatan pembangunan nagari di Sumbar.

Kegiatan ‘Nagari Tageh’ yang dijalankan sebagai bentuk mensukseskan program Kampung Tangguh Nusantra yang dicanangkan oleh Pemerintah Pusat.

“Banyak daerah desa terpengaruh oleh covid-19, banyak masyarakat mengalami pengaruh ekonomi dan pengangguran. Disini peran kita NDC dalam pembinaan, pendampingan dan lainnya disetiap nagari tageh yang terbentuk di masing-masing Kota/Kabupaten di Sumbar,” kata Direktur NDC Unand Padang, Dr.Erigas Eka Putra, MS, Sabtu (27/11/2021).

Dijelaskannya, kampung tangguh nusantara tersebut dicanangkan Presiden untuk siap menghadapi kondisi ekonomi secara mandiri, mekanismesnya melalui Nagari Tageh yang merupakan bagian dari Kampung Tangguh Nusantara.

NDC sebagai mitra Nagari Tageh sebut Erigas,
diharapkan nagari dan masyarakatnya bisa siap melaksanan dan mengahdapi kondisi covid-19.

“Dalam arti kata, nagari tahan banting dalam menghadapi bencana pandemi.Mampu mengendalikan situasi sulit kepada situasi yang aman dan terkendali diberbagai hal di nagari,”  tuturnya.

Ada 11 item kriteria pembinaan Nagari Tageh melalui kerjasama dengan NDC Unand.

Salah satunya jelas Erigas, Tageh Pendidikannya. Sebab kaspistas peningkatan Sumber Daya Manusia, menjadi persoalan dalam menghadapi tantangan dalam pencangan nagari tageh ini.

Kemudian Tageh Kesehatannya, masyarakat  menyadari kondisi news normal menuju normal harus tetap memperhatikan protokol kesehatan covid-19. Memakai masker, menjaga jarak dan berprrilaku hidup sehat agar terhindar dari ancaman pandemi.

Selanjutnya harus Tageh Ekonominya, menurut Direktur NDC itu, banyak pengganguran di daerah perkotaan dan Kabupaten. Baik di Kota-Kota besar maupun kota kecil. Hal ini disebakan karena mereka kehilangan pekerjaan selama menghadapi pandemi dan banyak usaha tidak berkembang akibat Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM) dan lainnya.

“Unruk kebutuhan dasar rumah tangga dan hasil usaha perlu peningkatan, justru itu NDC harus cakap dalam pembinaan dan pembimbingan nagari tageh dilapangan,” terangnya.

Harus Tageh Kelapangan, karena nagari tidak boleh menjadi penceklik. Harus punya lumbung pangan kesiapan pangan untuk warga dan membantu para perantau yang membutuhkan bantuan dan hasil panennya untuk bisa dikirim ke rantau.

“Kita lihat selama tingginya kasus pandemi, segala kegiatan diperantuan dibatasi. Mereka hanya berdiam diri di rumah, maka tageh kelapangan dalam membantu perantau. Ini sangat ditekankan dalam pembentukan nagari tageh ini,” ucapnya.

Nah, Tageh Bundo Kanduangnya, ibu rumah tangga harus tageh bencana. Kondisi ini bisa dilakukan dengan cara menanam sayuran dan lainnya diperkarangan rumah. Dengan begitu, dapat menghemat pengeluaran kebutuhan setiap hari.

Tageh Pemuda Nagari, menjadi relawan dengan begitu pemuda bisa membantu kesehatan masyarakat ketika harus membutuhkan bantuan kapanpun. Membantu keluarga yang terpapar covid, pembinaan dan isolasi mandiri dan lainnya.

“Sebab nagari tageh ini melibatkan seluruh unsur di nagari, agar nagari tageh yang dibentuk dan dibina mampu menjadi penguat program nagari tageh itu sendiri di daerah,” ujarnya.

Tageh Sistim Informasi, harus diwujudkan berbasis digital, karena disituasi pandemi tidak bisa berhubungan lansung dengan sesama, namun
bisa berkomunikasi dengan internet dan jarak jauh secara digital.

“Ini wujud utama NDC menjadi daerah sebagai nagari digital,” bebernya.

Selanjutnya, Tageh Kebencanaan, bagaimana menghindari kepanikan warga dan harus bisa diredam. Melalui Nagari tageh ini bisa diciptakan nagari memberikan solusi dari kepanikan yang terjadi.

Tageh Hukum, lembaga adat agar dapat menyelesaikan persoalan di nagari tanpa harus melibatkan aparat penagak hukum. Kalau ada kasus di Nagari, jangan cepat-cepat harus berujung penjara. Kecuali kasus-kasus yang berat.

Tageh Ketertiban Masyarakat, selama pandemi ekonomi terpuruk, karena banyak penggauran dan banyak kasus kamtibmas di nagari-nagari. Perlu dibekali penanaman konsep nagari yang aman.

Terakhir, Tageh Keimanan Budaya dan Adat.
Kalau iman kuat, pasti kita akan sabar dalam menghadapi kondisi buruk dalam masa pandemi, termasuk bagian intropeksi diri. Nah, kalau biasanya antar tetangga tidak rukun dan harus rukun. Bersatu dalam menggerakan program nagari tageh, ini salah satu inti keberadaan nagari tageh di masa pandemi,” ujarnya. (Adi)