Kesenian Islam Meriahkan Konfercab NU Solok Selatan

Kesenian Islam Meriahkan Konfercab NU Solok Selatan

Penampilan Qosidah Rebana Muslimah memeriahkan Konfrensi Cabang (Konfrencab) Nahlatul Ulama (NU) Solok Selatan, Rabu (20/10/2021) di Auala Sarantau Sasurambi Kantor Bupati Solsel.

Kesenian islma itu juga dalam menyumarakan Peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW, 12 rabiul awal 1443 hijriyah tahun 2021 dengan senandung Islami yang di perdengarkan oleh Qasidah Rebana Muslimah NU.

Qasidah rebana ini merupakan salah satu kekayaan kesenian islam yang tumbuh dan berkembang ditengah masyarakat islam.

“Tetapi seiring dengan kemajuan zaman dan teknologi, seni budaya qasidah rebana kurang diminati oleh para generasi muda,” kata penyanyi Kasidah Rebana Muslimah NU, Fitraneli.

Kasidahnya selalu tampil pada kegiatan keagamaan, baik di masjid, kegiatan Nagari, Kecamatan dan Kabupaten Solsel.

Untuk diketahui, bahwa Rebana pertama kali diperkenalkan pada abad ke-6 Mesehi saat Nabi Muhammad SAW hijrah dari Makkah ke Madinah.

Masyarakat islam saat itu, menyambut Rasulullah SAW dengan rebana sambil bersyair. Salah satu syair yang dilantunkan saat itu adalah syair yang artinya, “Purnama telah terbit di atas kami, dari arah Tsaniyatul Wada’. Kita wajib mengucap syukur, dengan doa kepada Allah semata,”.

Hingga sekarang para masih dipertahankan kesenian islam sebagai bentuk kecintaan kepada islam dan Nabi Muhammad SAW

Di Indonesia, rebana pertama kali diperkenalkan oleh Habib Ali bin Muhammad bin Husain al-Habsyi pada abad ke-13 Masehi. Pada awal masuknya Islam ke Indonesia, Habib Ali menggunakan rebana dalam rangka misi dakwah menyebarkan agama Islam.

Dia memperkenalkan rebana dan kasidah dengan cara mendirikan majelis shalawat sebagai sarana kecintaan terhadap Rasulullah SAW.

Majelis tersebut kemudian banyak yang menyebar ke daerah Kalimantan dan Jawa.

Dalam menyebarkan agama Islam, Habib Ali juga mengarang sebuah buku berjudul Simthu Al-Durar yang memuat kisah perjalanan hidup Rasulullah SAW. Di dalamnya juga terdapat bacaan shalawat-shalawat sehingga kitab itulah yang sering kali dibaca dan diiringi dengan alat musik rebana saat memperingati acara Maulid Nabi SAW.

Baru diperkenalkan melalui kesenian musik hadrah dan kasidah di Indonesia. Kedua kesenian musik itu menjadi media dakwah Islam dan sebagai hiburan dalam acara peringatan hari-hari besar Islam. (Adi)