Sejarah Penggunaan Angka Nol Pada Abad 400 SM

  • Adit
  • 7 Oktober 2021
  • Komentar Dinonaktifkan pada Sejarah Penggunaan Angka Nol Pada Abad 400 SM

Jakarta – Ilmuan matematikawan Bobilonia telah menggunakan konsep angka nol semenjak abad 400 Sebelum Masehi. Saat itu, angka nol belum ditulis dengan angka ‘0’, tetapi dengan simbol ” saja.

Kemudian Al Khawarizmi mengembangkan konsep angka nol hingga dikenal di seluruh dunia?

Dari penelitian pada tablet batu peninggalan Babilonia, rupanya simbol angka nol ” semula digunakan di Babilonia untuk membedakan angka yang dimaksud.

Contohnya yaitu seperti membedakan angka 216 dan 21″6 (2106), seperti dikutip dari penelitian Marina Toma, “A History of Zero” dalam Journal of Science and Arts.

Konsep angka nol juga ditemukan pada tablet di Kish, kota kuno Mesopotamia di timur Babilonia yang kini adalah bagian dari Iraq. Tablet ini rupanya berasal dari masa yang lebih lampau, yaitu sekitar 700 SM (sebelum Masehi). Sedikit berbeda dengan tablet Babilonia, simbol angka nol di Kish menggunakan simbol petik tiga.

Tetapi, kedua artefak tersebut sama-sama memperlihatkan bahwa angka nol tidak pernah digunakan di akhir bilangan, sehingga selalu di tengah bilangan. Contohnya yaitu ada angka 21″6, tetapi tidak ada angka 216″.

Penggunaan konsep angka nol sekitar tahun 650 SM lalu ditemukan di India. Manuskrip India menggunakan tanda titik untuk mengindikasikan ‘ketiadaan’ yang kelak dikenal dengan angka nol. Saat itu, tanda titik juga digunakan sebagai simbol tidak diketahui, yang kini disimbolkan sebagai ‘x’. Angka nol di India saat itu dinamakan kha, tetapi belum memiliki simbol ‘0’ seperti sekarang.

Penemuan Angka Nol dalam Matematika
Matematikawan India Brahmagupta, Mahavira, dan Bhaskara lalu membuat buku berisi upaya masing-masing menggali penggunaan angka nol beserta bilangan negatif dalam operasi aritmatika, penambahan, pengurangan, pengalian, dan pembagian.

Brahmagupta lalu memberikan contoh aritmatika yang menggunakan angka nol dan bilangan negatif sekitar abad ke-5 sampai ke-7 Masehi. Salah satunya yaitu, jika sebuah bilangan dikurangi dengan bilangan tersebut, maka akan menjadi nol.

“Bilangan negatif yang dikurangi dari nol adalah bilangan positif, bilangan positif yang dikurangi dari nol adalah bilangan negatif, nol yang dikurangi dari angka negatif adalah bilangan negatif, lalu nol yang dikurangi dari bilangan positif adalah positif, dan nol yang dikurangi dari nol adalah nol,” tulis Brahmagupta.

Matematikawan India ini menghadapi kesulitan saat menyoal pembagian dengan nol. Kendati salah dengan menyebutkan bahwa nol dibagi nol sama dengan nol, upaya Brahmagupta merupakan yang pertama mencoba mengembangkan matematika dengan angka nol dan bilangan negatif.

Al Khawarizmi kelak menyempurnakan kembali beberapa perhitungan yang menggunakan angka nol dari Brahmagupta sekitar tahun 810 M.

Di awal penggalian konsep angka nol dari buku-buku dari India, Al Khawarizmi menuliskan upaya dan temuannya dalam buku Al Khawarizmi on the Hindu Art of Reckoning . Kitab karya Al Khawarizmi tersebut mendeskripsikan sistem penempatan bilangan India berdasarkan 1, 2, 3, 4, 5, 6, 7, 8, 9, dan 0.

Angka nol dideskripsikan Al Khawarizmi atas peranannya dalam sistem komputasi dan sistem penempatan bilangan dalam buku Al-Khawarizmi, al-Jabr wa al-Muqabalah pada tahun 773 M. Dalam buku tersebut dijelaskan, angka nol merupakan bagian angka Arab yang didasari oleh sistem bilangan di India, seperti dikutip dari penelitian M Kharis Madjid.

“Angka Nol sebagai Kontribusi Muslim terhadap Matematika Modern” dalam Jurnal Studi Agama-Agama dan Pemikiran Islam,”

Al Khawarizmi dalam buku tersebut juga memberi tanda lingkaran kecil untuk melambangkan ketiadaan sebuah bilangan tersebut. Dari situ, kelak bentuk dan nama angka nol dikenal di penjuru dunia. (Sumber detik.com)

error: Content is protected !!