Melirik aktivitas para petani usai memanen jagung di Kabupaten Solok Selatan, Sumatera Barat.

Pagi memanen bersama penerima upah, malamnya harus dijaga agar aman dari kasus pencurian. Para petani harus tidur diterval selama proses jagung kering dan dibeli para pedagang.

Apalagi saat ini harga jagung melambung tinggi, perkilogramnya tembus Rp5.300. Hal ini menjadi tolak ukur para petani jagung di Sungai Salak, Nagari Lubuk Gadang Utara, Kecamatan Sangir, untuk tetap bermalam diterval demi menjaga hasil pertaniannya berupa komuditi jagung.

Banyak suka dan duka dilalui para petani. Sebelum hasil diraih, harus banyak berkorban waktu terutama bagi mereka yang memiliki kebun jauh dari pemukiman masyarakat.

Bila tidak diawasi saat larut malam atau menjelang magrib, jagung yang sudah dipanen bisa raib. Kondisi ini sudah sering dilalui warga, bahkan sore hari pun aktivitas pencurian jagung bisa terjadi.

“Petani disini juga pernah terinjak kepalanya oleh pencuri saat malam hari, ketika ia tidur diterval tanpa alat penerangan,” ungkap Mairadi petani di Sungai Salak.

Isap petani lainnya juga menuturkan, pernah mengalami kasus pencurian jagung ketika sedang di panen di ladang. Hanya ditinggal sejam beristirahat di sore hari, jagungnya raup dua karung.

Justru itu, para petani di daerah itu, ketika panen mereka harus menunggui jantungnya demi menjaga mata pencarian dari kasus pencurian.

Dia menuturkan, tahun lalu kasus pencurian jagung terungkap. Sehingga pelaku ditangkap warga dan diserahkan ke aparat penergak hukum.

“Lebih baik waspada, sebelum kehilangan,” tukasnya. (Adi)