Peta merupakan gambaran permukaan bumi yang diperkecil ke dalam bidang datar (terutama kertas) dengan penambahan tulisan dan simbol-simbol.

Pemberian simbol-simbol tersebut dimaksudkan agar peta mudah untuk dibaca. Simbol juga bertujuan untuk menunjukkan bentuk muka bumi yang berupa daratan, lautan, sungai, pegunungan, teluk, tanjung, dan lain-lain.

Sejarah Peta berdasarkan buku “Seri Penemuan Peta” oleh Armelia F, peta pertama kali dibuat sekitar tahun 30.000 sebelum masehi. Hal ini diketahui dengan ditemukannya sketsa dan ukiran yang terdapat pada permukaan batu. Namun, sketsa yang ditemukan ini belum terlalu jelas maknanya.

Baru pada penemuan berikutnya ditemukan sketsa yang diperkirakan dibuat pada sekitar tahun 3000 SM telah menggambarkan dengan jelas mengenai jalan, sungai, maupun tanaman-tanaman keras yang ada pada waktu itu.

Bangsa yang sudah mengenal peta sejak dahulu adalah Mesir kuno. Mereka membuat peta dengan tujuan untuk menggambarkan tanda kepemilikan yang ada di tanah mereka.

Bangsa Mesir kuno khawatir tanda kepemilikan tanahnya hanyut terbawa banjir yang meluap dari Sungai Nil. Karena itu mereka memetakannya pada semacam kertas yang terbuat dari papirus. Mereka juga membuat peta dengan tanah liat yang kemudian dibakar supaya awet.

Tak hanya bangsa Mesir kuno yang mengenal peta sejak dahulu. Menurut laman resmi Kemdikbud, sekitar tahun 2300 SM, peta kuno tertua juga dibuat oleh bangsa Babilonia dan Cina.

Sama halnya dengan bangsa Mesir, peta kuno yang dibuat oleh bangsa Babilonia, berbentuk tablet dan terbuat dari tanah liat.

Baru pada tahun 165-85 SM, Ptolemaeus dari Yunani berhasil menciptakan peta dengan menggunakan pengukuran bujur dan lintang bumi. Sejak saat itulah, garis lintang dan bujur mulai dikenal di dalam pembuatan peta.

Perkembangan Peta
Peta dunia secara utuh baru dapat dibuat pada awal abad ke-16, setelah eksplorasi ke seluruh wilayah lautan dilakukan. Salah satunya adalah dari pelayaran Colombus saat mencari dunia baru.

Sejak saat itu, teknik penggambaran peta terus berkembang pada abad ke-17 hingga ke-19, sehingga menjadi lebih akurat dan nyata dengan menggunakan metode-metode yang ilmiah.

Bahkan hingga saat ini pemetaan modern telah dilakukan berdasarkan pada kombinasi antara remote sensing (penginderaan jauh) dan ground observation (pengecekan lapangan). Teknik geographic information systems (GIS) ini muncul pada periode 1970-80-an.

Kemunculan GIS menggeser pemetaan peta secara tradisional. Awalnya digambarkan di atas kertas berubah menjadi pemetaan yang menampilkan gambar dan database secara bersamaan dengan menggunakan sistem informasi geografi digital.

Manfaat Peta
Sejak dahulu, keberadaan peta sangat bermanfaat bagi para pedagang. Di samping menggunakan navigasi laut, para pedagang pada masa lampau juga menggunakan peta agar mengetahui rute perjalanan yang diambil dan tidak salah arah.

Sebaliknya, pada saat melakukan pelayaran melewati berbagai pulau, para pedagang juga membuat peta keberadaan pulau-pulau yang dilewatinya untuk menyempurnakan peta-peta yang sudah ada.

Hingga kini peta memiliki manfaat yang nyata bagi banyak orang, termasuk ketika seseorang mencari alamat baru atau mencari sebuah jalan untuk dilewati, Sumber detik.com (faz/pal)