Pekanbaru, Kopasnews.com–Sebanyak 436 anak bawah lima tahun (balita) di Kota Pekanbaru, Provinsi Riau mengalami stunting di 15 kelurahan.

Kondisi gagal tumbuh pada balita ini disebabkan kekurangan gizi kronis dan infeksi berulang yang terjadi pada masa janin dan anak usia dua tahun.

“Sesuai data kita ada sekitar 436 anak mengalami stuting atau balita gagal tumbuh akibat kekurangan gizi,” ungkapPelaksana Tugas (Plt) Kepala Dinas Kesehatan Kota Pekanbaru, dr Arnaldo Eka Putra, Kamis (22/7/2021).

Hasil stunting tersebut ditemukan di 21 Puskesmas di Kota Pekanbaru ketika melakukan pendataan penimbangan balita di 83 kelurahan. Data tersebut dimasukkan ke dalam aplikasi E-PPGBM pada Februari 2020 lalu.

Dari 83 kelurahan, terdapat 15 kelurahan yang menjadi prioritas lokus stunting. Dan jumlah balita yang mengalami stunting sebanyak 436 orang dengan prevalensi 5,43 persen.

Dikatannya, indikator penentuan dalam lokus stunting yaitu dari kelurahan dengan prevalensi tertinggi dan cakupan layanan yang rendah. 

“Sehingga kita Dinkes menetapkan 15 kelurahan yang menjadi prioritas lokus stunting pada 2021,” bebernya.

Arnaldo menambahkan, Kelurahan yang menjadi perhatian dalam penanganan stunting yakni, Kelurahan Suka Mulya, Melebung, Tanjung Rhu, Bencah Lesung, Pesisir, Rejosari, Rumbai Bukit, Tuah Negeri, Bambu Kuning, Sialang Sakti, Tirta Siak, Tebing Tinggi Okura, Air Dingin, Limbungan Baru, dan Lebah Sari.

Direktur Sinkronisasi Urusan Pemerintah Daerah III Direktorat Jenderal Bina Pembangunan Daerah Kementerian Dalam Negeri (Ditjen Bangda Kemendagri) Budiono Subambang mengatakan, peran pemerintah provinsi dan kota sangat penting dalam penurunan angka stunting.


“Rembuk stunting adalah komitmen kesepakatan rencana kegiatan dari OPD terkait. Cegah stunting itu penting untuk Kota Pekanbaru,” ucapnya di Aula Gedung Utama Kompleks Perkantoran Tenayan Raya, Kota Pekanbaru. Dit