Kepala Laboratorium Pusat Diagnostik dan Riset Penyakit Infeksi Universitas Andalas (Unand) Padang, Dr.dr.Andani Eka Putra, M.Sc mengatakan, persentase tingkat kematian yang disebabkan oleh Tubercolosis (TBC) lebih tinggi dari wabah pandemi covid-19.

Dibandingkannya, sekitar 5 persen penderita TBC meninggal dunia, sedangkan penderita covid-19 kisaran 2 persen meninggal dunia.

“Ini artinya, penderita TBC lebih berbahaya dari Covid-19. Namun jika dibandingkan disisi penyebarannya wabah covid-19 lebih berbahaya,” ungkap Dr.dr.Andani Eka Putra saat sosialisasi penguatan Covid-19 di Aula Kantor Bupati Solsel, Sabtu (11/7/2021).

Kenapa Covid berbahaya, karena jumlah sebaran covid lebih banyak jika dibandingkan TBC. Dicontohkannya bila penderita covid seberannya mencapai 2-3 juta penduduk Indonesia. Tingkat kematian dengan persentase 2 persen sudah kisaran 40 ribuan, ini contoh saja sebut Andani. 

Walaupun Covid berbahaya, namun tidak mematikan. Oleh karena itu jangan takut dengan covid, tetapi takutlah dengan bahaya penyebarannya. Jaga jarak, pakai masker, jaga kebersihan dan tingkatkan imun melalui pemberian vaksin oleh Pemerintah.

“Yang jelas Covid-19 bukan penyakit mematikan atau memalukan, tetapi covid penyakit membahayakan terutama penyebarannya,” ulasnya. 

Oleh sebab itu, masyarakat harus patuh terhadap protokol kesehatan (Prokes), jangan lupa memakai masker saat berpergian. 

Dijelaskannya, yang paling menderita selama wabah pandemi melanda tanah air dan daerah adalah masyarakat, sebab aktivitas perekonomian mereka akan terganggu. Pemasukan berkurang dan kebutuhan lebih tinggi.

Kalau pejabat pemerintah atau wali nagari mereka memiliki honor bulanan. Ada gaji tetap yang akan diterima, sedangkan masyarakat harus berdagang atau bertani dulu. Diharapkannya selama pandemi harus tageh pangan, demi tageh ekonomi.

“Yang paling menderita selama pandemi adalah masyarakat, justru itu mari sama kita jaga proses dan perangi pandemi,” bebernya. 

Langkah dalam masalah pandemi, hulunya yang harus diselesaikan. Mulai pencegahan dan memutus mata rantai penularan. Utamakan pengetahuan masyarakatnya tentang covid.

Kondisi terkini, sekitar 28 persen naik angka positif di Sumatera Barat. Sumbar provinsi harus diwaspadai, 8 persen diduga penularan virus delta.
“Bamus, wali nagari, alim ulama dan tokoh masyarakat kunci keberhasilan pencegahan dan memutus covid. Disamping sosialisasi Pemkab dan Program vaksinasi,” jelasnya. (1qdit)