Tanaman Porang siap dikembangkan dilahan sekitar 3.000 hektar di Kabupaten Solok Selatan, Provinsi Sumatera Barat (Sumbar).

Pengelolaan lahan tidur tersebut sebagai wadah dalam meningkatkan kesejahteraan masyarakat para petani daerah, yang selama ini hanya berpatokan pada komoditi kopi, jagung, padi dan kelapa sawit.

“Sudah saatnya Porang dikembangkan di daerah ini, target kita dua tahun kedepan seluas 3.000 hektar. Sebab, Porang komuditas mahkota pemerintah dalam peningkatan nilai ekspor Negara,” ungkap Ketua Asosiasi Porang Kabupaten Solok Selatan, Bustanul, Rabu (23/6/2021) di Padang Aro.

Dia menyebutkan, dari sekitar 3.500 hektar lahan tidur yang ada di tujuh Kecamatan di Kabupaten Solok Selatan, sekitar 3.000 hektar untuk dua tahun kedepan siap diisi dengan momuditas porang.

Saat ini pihak Assiosiasi tengah mengusulkan bantuan bibit porang sebagai Program Nasional di Kementerian Pertanian RI, untuk jatah Solok Selatan diminta sekitar 3.000 hektar. 

“Pengembangan Porang ini sebagai bentuk dukungan Asosiasi Porang Kabupaten Solsel terhadap program dan visi misi kepala daerah dibidang pertanian,” jelasnya.

Bustanul berharap niat baik dalam memajukan pertanian dan mendukung program nasional Pemerintah Pusat dan Pemerintah Daerah bisa terwujud dengan baik, dan soal penyaluran sudah ada koordinasi dengan Pemerintah Provinsi Sumbar melalui Koperasi Sangir Mandiri (KSM).

Satu hektar lahan tidur saja katanya, butuh 40 batang bibit Porang. Di Solok Selatan sendiri tanaman porang ini dalam proses pengembangan, baru sekitar 15 hektar di Solok Selatan. Sebagian kecil sudah mulai memanennya.

Bahkan pihak Pabrik Porang dari Kabupaten Solok dan Kabupaten Dharmasraya sudah mulai melirik Porang yang ditanam masyarakat di Solok Selatan.

“Jika sudah dikembangkan, kita juga berharap Pabrik mini pengolahan Porang hendaknya dipersiapkan untuk Solsel dan ini akan menjadi langkah kongkrit bagi Pemerintah Daerah dalam mensejahterakan petani,” terangnya.

Sementara, Pambudidaya Porang Kecamatan Sangir, Elismanhia, menyebutkan, baru sekitar 2 hektar yang ia tanam. Lahan dua hektar ini sudah menghasilkan, saat ini baru sekitar 20-25 kilogram komuditas Porang yang dipanennya.

“Perkilogram bibit katak dijual disini Rp350 ribu, namun tahun ini kita juga memperluas pengembangan Porang. Sudah 5 hektar lahan siap ditanami,” jelasnya. Adit