Penderitaan Warga Inggris, PSK Bertambah, Makan Karet, PM Mundur Gegara Krisis

Perdana Menteri (PM) Inggris Liz Truss
Perdana Menteri (PM) Inggris Liz Truss

Jakarta, kopasnews.com – Berikut Penderitaan yang memilukan dialami warga Negara Inggris sebagai dampak krisis ekonomi yang tidak terbendung di Negeri Ratu Elizabeth itu sebagai dampak meroketnya harga kebutuhan pokok.

Bahkan Perdana Menteri (PM) Inggris Liz Truss menyatakan mengundurkan diri dari jabatannya karena mengaku tidak mampu menjalankan tugasnya sebagai PM Inggris.

Baca Juga :Ekonom Top Dunia Prediksi Dunia Akan Alami Krisis Hebat di 2023

Berikut Daftar Penderitaan Warga Inggris hingga Pengunduran Diri PM Liz Truss dilansir dari CNBC Indonesia;

1.Harga Energi Melambung

Kenaikan harga energi makin memperparah krisis. Ini membuat banyak warga terlilit.

Kenaikan ini sendiri didorong oleh naiknya harga bahan bakar setelah serangan Rusia ke Ukraina. Inggris dan beberapa sekutunya melemparkan embargo atas beberapa bahan bakar asal Rusia.

Di Oktober ini, otoritas energi Inggris Ofgem menaikkan tarif batas atas listrik rumah tangga pada hingga 3,549 pound atau Rp 60,7 juta setahun. Padahal, sebelumnya tarif batas atas hanya menyentuh angka 1.971 pound atau Rp 33,7 juta.

2. Inflasi Hampir 10 Persen

Kenaikan harga energi mendorong barang lain naik. Ini juga termasuk makanan.

Di September, inflasi Inggris berada di level 10,0 persen secara year-on-year (yoy). Ini merupakan kenaikan tertinggi dalam 40 tahun.

3. PSK Bertambah

Dampak lain yang terjadi beberapa kalangan muda memutuskan untuk menjadi pekerja seks komersial (PSK) demi memenuhi kebutuhan hidup. Dilansir dari laporan media lokal Itv, seorang mahasiswi bernama Scarlett kini mendalami profesi itu.

Ia mengaku makin banyak teman-temannya yang bertanya terkait bagaimana masuk di industri seks. Pasalnya, pendapatan dari kegiatan seks berbayar itu dapat mencukupi biaya sewa apartemen.

“Orang-orang yang mengagungkannya di internet telah membuat banyak orang seperti, ‘oh, bukankah ini mudah dan menyenangkan dan glamor dan saya akan sangat keren dan saya akan minum banyak sampanye dan menghasilkan banyak uang’. Sekarang, sikapnya berubah menjadi seperti: ‘Saya sangat perlu membayar sewa saya’,” ujarnya.

Di awal musim panas negara itu saja, dimulai Juni dan berakhir September, ada tambahan 1/3 perempuan menjadi PSK.

Data terbaru English Collective of Prostitution, yang dikutip akhir bulan lalu, mengatakan banyak warga yang menjadi PSK ini merupakan orang tua tunggal. Di Inggris prostitusi indoor diizinkan pemerintah.

“Krisis biaya hidup sekarang mendorong wanita menjadi pekerja seks dengan berbagai cara. Apakah itu di jalan, di tempat atau online,” kata Juru Bicara Niki Adams, dimuat Sky News.

Sementara itu, mengutip Survey Resolution Foundation, dalam kurun waktu itu sampai dengan pandemi 2020, rata-rata pendapatan kelas pekerja hanya naik 0,7 persen pertahun. Ini jauh dari rekaman dekade sebelumnya sebesar 2,3 persen (antara 1961-2005).

 

4. Anak Makan Penghapus Karet

Mahalnya harga pangan membuat beberapa keluarga memutuskan untuk melewatkan waktu makannya. Bahkan, ini juga berdampak pada anak-anak.

Satu sekolah di Lewisham, London Tenggara, memberitahu badan amal Chefs in Schools tentang seorang anak yang ‘berpura-pura membawa kotak makan’ padahal kosong. Anak itu diketahui tidak memenuhi syarat untuk mendapatkan makanan sekolah gratis dan tidak ingin teman-teman tahu bahwa tidak ada bekal yang dibawanya.

Di Inggris, semua anak sekolah berhak atas makanan sekolah gratis. Tetapi di luar itu, hanya anak-anak yang orang tuanya berpenghasilan kurang dari 7.400 pound (Rp 120,5 juta) per tahun yang memenuhi syarat.

Masih ada 800.000 anak yang tidak termasuk dalam daftar penerima makanan gratis itu. Kelompok bantuan amal masyarakat juga mengatakan kepada Observer minggu ini bahwa mereka berjuang untuk mengatasi permintaan baru dari keluarga yang tidak mampu memberi makan anak-anak mereka.

“Kami mendengar tentang anak-anak yang sangat lapar sehingga mereka mengunyah penghapus karet di sekolah. Anak-anak datang karena belum makan apapun sejak makan siang sehari sebelumnya. Pemerintah harus melakukan sesuatu,” kata Kepala Eksekutif Chefs in Schools, Naomi Duncan, kepada The Guardian, akhir bulan lalu.

5. Bank Sentral Inggris Naikkan Suku Bunga.

Di tengah krisis, bank sentral Bank Of England (BoE) telah menaikkan suku bunga 50 basis poin menjadi 2,25 persen. Kenaikan suku bunga ini menjadi yang kenaikan yang ketujuh secara berturut-turut.

Bank sentral ini bahkan juga berencana untuk memberikan kenaikan suku bunga ‘signifikan’ ketika pertemuan berikutnya pada bulan November. Ini dilakukan untuk mengendalikan inflasi hingga di level 2 Persen dilansir dari CNBC Indonesia.

6. Perdana Menteri (PM) Inggris Liz Truss Mengundurkan Diri

Dampak krisis ekonomi yang tidak terbendung di Negeri Ratu Elizabeth, menjadi pemicu mundurnya Perdana Menteri (PM) Inggris Liz Truss setelah 45 hari menjabat di posisi Pemerintahan Inggris, tepatnya pada Kamis lalu.

Pengunduran diri Truss disampaikannya langsung kepada Raja Charles III, tepatnya usai melakukan pertemuan dengan Graham Brady, pemimpin Komite Partai Konservatif 1922, pada Kamis pagi waktu setempat.

“Mengingat situasinya, saya tidak bisa menyampaikan mandat yang saya pilih oleh Partai Konservatif,” katanya dalam pidato singkat Kamis, waktu setempat.

Perempuan berusia 47 tahun itu mengatakan akan tetap menjabat sebagai PM Inggris sementara sampai penggantinya ditunjuk. Direncanakan akan ada PM baru pekan depan.

Mundurnya Truss menambah daftar panjang krisis yang terjadi di Negeri Ratu Elizabeth tersebut. Inggris saat ini tengah mengalami krisis ekonomi yang kian parah, di mana kehidupan warga terus terpengaruh akibat biaya hidup yang meroket.

Inggris sendiri pada September lalu mencatatkan inflasi hingga di atas 10,1 persen. Selain itu, nilai tukar poundsterling terhadap dollar Amerika Serikat (AS) juga anjlok tajam yang membuat impor komoditas ke negara itu makin mahal. (*)