Belasan Ribu Angka Kemiskinan Di Solok Selatan Terus Alami Peningkatan

20220830 1728061661855312217

Belasan Ribu Angka Kemiskinan Di Solok Selatan Terus Alami Peningkatan

Padang Aro, kopasnews.com – Belasan ribu angka kemiskinan di Kabupaten Solok Selatan, Sumatera Barat belum bisa diputus dan setiap tahunnya terus mengalami peningkatan.

Data Badan Pusat Statistik Kabupaten Solok Selatan mencatat trend angka kemiskinan di daerah berjulukan Sarantau Sasurambi itu terus mengalami kenaikan dari 11.089 jiwa di tahun 2017 menjadi 13.041 jiwa di tahun 2021.

“Terjadi kenaikan angka kemiskinan di Solok Selatan sebanyak 1.952 jiwa selama 4 tahun terakhir,” kata Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) Solok Selatan, Abdul Razi, Senin (19/6/2022).

Dia menjelaskan, hal ini disebabkan karena kondisi dimana seseorang atau sekelompok orang tidak mampu memenuhi hak-hak dasarnya untuk mempertahankan, dan mengembangkan kehidupan yang bermartabat. Akibat terjadinya pengangguran dan ketersediaan lapangan pekerjaan.

Data tahun 2017 penduduk miskin di Solsel tercatat 11.089 jiwa (7,21 persen), tahun
2018 sebanyak 11.085 jiwa (7,07 persen), 2019 sebanyak 12.005 jiwa (7,33 persen), 2020 sebanyak 12.039 jiwa (7,15 persen) dan di tahun 2021 mencapai 13.041 jiwa (7,52 persen)

“Ini karena hak-hak dasar seperti kebutuhan pangan belum terpenuhi untuk penunjang kesejahtehteraan keluarga di masyarakat, salah satu penyebabnya,” tuturnya.

“Juga berkaitan dengan kesehatan, pendidikan, pekerjaan, perumahan, air bersih, pertanahan, sumber daya alam dan lingkungan hidup,” jelasnya.

Jadi sebutnya, banyak faktor yang mempengaruhinya termasuk belum terpenuhi rasa aman dari perlakuan atau ancaman tindak kekerasan, dan hak berpartisipasi dalam sosial politik.

Dari status kesejahteraan mikro BPS mencatat 9.334 jiwa kepala keluarga ditempatkan pada posisi dalam garis kemiskiman di tujuh Kecamatan di Solok Selatan pada tahun 2015.

Di Kecamatan Sangir 2.626 jiwa, Sangir Jujuan 487 jiwa, Sangir Balai Batang Hari 485 jiwa, dan Sangir Balai Janggo 692 jiwa.

Angka Pengangguran Sarjana Lebih Banyak Dari Tamatan SMA, Ini Penyebabnya

Kemudian di Kecamatan Sungai Pagu 1.722 jiwa, Pauh Duo 1.462 jiwa dan di Koto Parik Gadang Diateh 1.850 jiwa.

“Kecamatan Sangir Pusat Kabupaten Solsel terringgi angka kemiskinannya,” bebernya.

Nah, gambaran lain kondisi Kemiskinan mikro menurut Lapangan Usaha Kepala Rumah Tangga (LUKRT) 2015, terlihat dari jumlah Kepala Keluarga yang bekerja menurut Lapangan Pekerjaan (LP) dengan status kesejahteraan 40 persen terendah.

Angka tertinggi juga terdapat di Kecamatan Sangir jumlahnya 2.410 jiwa, Sangir Jujuan 414 jiwa, Sangir Batang Hari 434 jiwa, dan Sangir Balai Janggo 645 jiwa.

Selanjutnya di Kecamatan Sungai Pagu 1.418 jiwa, Pauh Duo 1.340 jiwa dan di Koto Parik Gadang Diateh 1.623 jiwa.

“Hasil pendataan petugas BPS dilapangan, 8.284 jiwa Kepala Keluarga memiliki tingkat kesejahteraan terendah di Solsel,” paparnya.

Kalau dibandingkan dengan kondisi kemiskinan mikro menurut lapangan usaha kepala rumah tangga 2015 per Kecamatan.

Disektor pertanian padi dan palawija terdapat sebanyak 4.024 jiwa memiliki penghasilan terendah (48,58 persen) atau persentase pertanian 74,11 persen.

Dirinci Abdul Razi, di Kecamatan Sangir 1.469 jiwa, Sangir Jujuan 110 jiwa, Sangir Batang Hari 14 jiwa dan di Sangir Balai Janggo 113 jiwa.

Di Kecamatan Sungai Pagu 629 jiwa, Pauh Duo 760 jiwa dan di Koto Parik Gadang Diateh 929 jiwa.

Di sektor perkebunan terdapat penghasilan terendah di Kecamatan Sangir 304 jiwa, Sangir Jujuan 162 jiwa, Sangir Batang Hari 358 jiwa, dan Sangir Balai Janggo 191 jiwa.

Di Kecamatan Sungai Pagu 150 jiwa, Sungai Pagu 258 jiwa, dan di Koto Parik Gadang Diateh 241 jiwa. Dengan total mencapai 1.664 jiwa (20,9 persen).

“Jadi kemiskinan dari berbagai sektor, termasuk pekerjaan pertanian padi dan palawija juga tertinggi di Kecamatan Sangir,” pungkasnya. (adi)