Pembangunan Istano Balai Janggo Stagnan Begini Penjelasan Tantua Rajo Sailan

Tantuah Rajo Sailan Mardiyon saat disambut dengan siriah Jo carano pada penilaian KAN Sungai Kunyit Tingkat Provinsi Sumbar beberapa waktu lalu. Dok kopasnews.com
Tantuah Rajo Sailan Mardiyon saat disambut dengan siriah Jo carano pada penilaian KAN Sungai Kunyit Tingkat Provinsi Sumbar beberapa waktu lalu. Dok kopasnews.com

Kopasnews.com –  Anggaran pembangunan Istano Kerajaan Balai Janggo, di Nagari Sungai Kunyit, Kecamatan Sangir Balai Janggo, Kabupaten Solok Selatan membutuhkan dana sebesar Rp10 miliar hingga tuntas.

Istano kerajaan dengan panjang 26×12 meter, memiliki 38 tiang, dan 9 gonjong. Dibangun persis seperti istano lindung bulan di Pagaruyung, Kabupaten Tanah Datar.

“Pembangunan Istano ini atas persetujuan pihak kerajaan Pagaruyung dan pelaksanaan pembangunannya sudah di mulai sejak 2017 lalu. Diperkirakan butuh anggaran Rp10 miliar hingga tuntas. Saat ini pembangunannya stagnan, karena keterbatasan anggaran dari niniak mamak di Nagari Sungai Kunyit,” kata Tantua Rajo Sailan, Mardiyon, Senin (18/3/2024).

Dia menyebut, Istano Balai Janggo sebelumnya sudah lapuk di makan zaman. Sehingga perlu dilestarikan kembali dengan bantuan para Datuak di 13 persukuan yang ada di daerah Kecamatan Sangir Balai Janggo itu.

Dulunya, Istano ini sebut Mardiyon sebagai tempat berkumpul raja nan tujuh. Yakni Banban Basi, Tuanku Rajo Putiah, Inyiak Payuang Putiah, Inyiak Bandaro Putiah, Inyiak Rajo Labia, Inyiak Tambun Tayiu, dan Dt Malepo Nan Sati. Semuanya berasal dari Kerajaan Pagaruyung.

“Dibangun lantai dua, untuk raja dan puti. Kondisi fisik bangunan lantai Istano baru tahap 50 persen dan sudah menghabiskan anggaran sekitar Rp500 juta,” jelasnya.

Baca Juga : KAN Sungai Kunyit Punya Keistimewaan Dari KAN Lainnya

Pembangunan rumah adat ini dilakukan dengan dana arisan para niniak mamak di daerah, hingga kini masih jalan sekali sebulan.
Penghasilan plasma sawit niniak mamak sekitar Rp15 juta perbulan didapatkan masing-masing persukuan. Sebagian suku ada yang masih berhutang ke bank untuk membangun rumah gadang masing-masing.

“Dulu dana arisan Rp5 juta persuku, sekarang hanya Rp2,5 juta. Karena sudah mulai akan dilaksanakan replanting sawit dan buah sudah berkurang, sehingga hasil didapatpun berkurang. Dengan dana arisan ini, 13 rumah gadang sudah berhasil dibangun, namun masih ada yang belum siap 100 persen,” jelasnya.

Tantua Rajo Sailan itu menambahkan, yang belum selesai itu yakni Istano Balai Janggo yang masih tahap 50 persen pembangunannya. Kemudian Rumah Gadang Dt Indomangkuto suku Melayu Sigintiu, Rumah Gadang Dt Rangkayo Basa, Rumah Gadang Dt Rajo Kalabihan. Rumah gadang persukuan tersebut baru tahap 90 persen dan tinggal finishing.

Yang sudah selesai dibangun dengan dana arisan niniak mamak sejak tahun 2013 lalu, yakni Rumah Gadang Dt Rajo Bangun, Rumah Gadang Dt Sampono Marajo, Rumah Gadang Dt Rajo Palembang, Rumah Gadang Dt Murun, Rumah Gadang Dt Manti Panghulu, Rumah Gadang Dt Bandaro Kayo, dan Rumah Gadang Dt Bandaro.

Baca Juga : Menlu Australia Resmi Menikah Dengan Sesama Jenis, Perdana Menterinya Ikut Ucapan Ini

“Beruntung saja para niniak mamak memiliki plasma sawit di daerah ini yang ditanam di tahun 2004 lalu, hingga bisa membangun belasan rumah gadang,” jelasnya.

Tahun 2026 nanti direncana akan di replanting, masing-masing suku 12 hektar plasma sawit dalam 6 kafling yang di miliki masing-masing persukuan niniak.

Rusli Dt Rajo Basa menyebut, Istano Balai Janggo memiliki dua kamar, dua anjuangan berada kiri kanan istano untuk kedudukan Rajo dan Puti Ganto Suri.

“Kalau sudah siap. Maka seluruh kegiatan adat di daerah ini akan di pusatkan di Istano Balai Janggo,” tuturnya. (adi)