Penyuluh Berlatar Belakang Peternakan Minim, Ini Dampaknya Bagi Solok Selatan

Kepala Bidang Peternakan Dinas Pertanian Solok Selatan, Irwan Supriadi
Kepala Bidang Peternakan Dinas Pertanian Solok Selatan, Irwan Supriadi

 

Solsel, kopasnews.com – Populasi ternak di Kabupaten Solok Selatan mencapai 16 ribu ekor, baik jenis sapi maupun kerbau di tahun 2022. Namun dinas terkait terkendala dengan minimnya penyuluh yang berlatar belakang peternakan.

Dari 16 ribu ekor tersebut 11 ribu ekor jenis sapi dan 5 ribuan ekor ternak kerbay. Sedangkan Inseminasi Buatan (IB) ternak ditargetkan 1.000 ekor dan terealisasi 1.300 ekor di tahun kemarin.

“Kendala saat ini kita di Perternakan, penyuluh berlatar belakang peternakan sangat sedikit dan ketika penyuluhan dilakukan dilapangan ini yang menjadi kendala kita,” ungkap Kepala Bidang Peternakan Dinas Pertanian Solok Selatan, Irwan Supriadi, Senin (17/10/2022) di Kantornya.

Dia menyebut di Solok Selatan hanya ada tiga orang dokter hewan, satu orang Dinas di Puskeswan Sungai Gadiang dengan wilayah kerja Kecamatan Sangir Balai Janggo, Sangir Jujuan dan Sangir Batang Hari.

Baca Juga :Riau Siapkan 170 Vaksinator Cegah PMK Pada Ternak

Baca Juga : Pemprov Sumbar Bakal Bangun SMK Peternakan di Solsel

 

Kemudian Puskeswan Pakan Selasa, wilayah kerja Kecamatan Pauh Duo, Sungai Pagu dan Koto Parik Gadang Diateh. Dan Puskeswan Kecamatan Sangir yang daerahnya cukup luas.

“Sebab itu, kita sangat membutuhkan penyuluh peternakan yang betul-betul membidangi dan profesional dibidang pelayanan penyuluhan,” jelasnya.

Irwan mengatakan, pengadaan awal sapi ternak oleh Pemkab Solok Selatan sebanyak 140 ekor.

Melalui program Desa Koorporasi bantuan sapi jantan dan betina. Rencana 500 ekor jantan dan 500 ekor betina. Namun baru tiba 500 ekor sapi jantan.

“Berdasarkan hasil monev kelapangan masing-masing kelompok di Pauh Duo sudah menjual 2 ekor sapi pengadaan tersebut, namun akan diganti kembali,” paparnya.

“Karena sesuai juknis sapi jantan untuk membantu operasional kelompok, boleh di jual setelah usia 2,5 bulan di kandang,” jelasnya.

Jika sapi pengadaan di jual saat kondisi normal harus dibeli kembali sesuai jumlah. Kalau sakit dipotong dan bersyarat, ada dispensasi sampai ada keuangan kelompok pengelola harus
dibeli kembali.

“Untuk kasus Penyakit Mulut dan Kuku (PMK) Kolompok ternak di Liki minggu lalu membeli sapi ternak di Payakumbuh, beberapa hari dipelihara dikandang sapi tersebut mati. Jadi, untuk pembelian ternak harus dihentikan sementara waktu,” ucapnya.

Untuk laporan PMK di Solok Selatan terdapat 1.300 ekor ternak mengalami kasus PMK, pengobatan melalui di vaksin sudah dilakukan.

Vaksin ternak sudah terealisasi sebanyak 1.250 dosis. Sebagian ternak sapi pribadi milik masyarakat dan kelompok ada yany sudah dua kali penyuntikan, jumlahnya dosis kedua baru sebanyak 300 dosis. Jenis vaksin Aftofort dan cafac.

“Keterlambatan realisasi vaksin kedua pada ternak, karena dosis kedua terlambat tiba. Vaksin kedua tiba mereknya lainnya. Pertama buatan Perancis dan vaksin kedua dari China. Tentu koordinasi dulu, dan agar tidak berdampak buruk pada ternak untuk vaksin jenis berbeda diberikan dari pertama ke vaksin ke dua,” tuturnya.

Kondisi setelah disuntik, Irwan Supriadi menyebutkan ada juga sapi demam setelah di vaksin sama dengan manusia, setelah di vaksin dikasih nomor barcod ditelinga sapi sebagai pendataan.

“Vaksin kedua kita berikan setelah satu bulan pemberian vaksin pertama. Vaksin ke 3 sesuai aturan setelah 6 bulan menerima vaksin ke dua,” pungkasnya. (adi)