Dampak Larangan Ekspor CPO, Harga TBS Sawit Anjlok

20220104 1313081650897138904

JAKARTA, Kopasnews.com — Dampak larangan ekspor Crude Palm Oil (CPO) oleh Presiden RI Joko Widodo (Jokowi) beberapa hari lalu, kini mempengaruhi harga Tandan Buah Segar (TBS) kelapa sawit di Indonesia.

Terutama telah terjadi di Sumatera Utara dan Provinsi Riau, harga TBS di dua Provinsi tersebut sesuai laporan petani kelapa sawit setempat kisaran Rp1.700 hingga Rp2.000 perkilogram.

“Jadi harga TBS alami penurunan 30 persen hingga 50 persen. Biasanya tembus Rp3 ribu hingga Rp3.700 perkilogram, sekarang alami penurunan hingga 50 persen,”kata Ketua Serikat Petani Indonesia (SPI) Henry Saragih saat dikonfirmasi, Senin (25/4/2022).

Dia mengatakan, bahwa kebutuhan minyak goreng di seluruh Provinsi di Indonesia hanya 16,29 juta ton, sementara jumlah profuksi CPO mencapai 46,89 juta ton.

Berdasarkan data komsumsi tersebut terjadinya stok CPO kelapa sawit melimpah di tanah air, diperkirakan mencapai 30,60 juta ton mangkrak dari dampak larangan ekspor CPO ke luar negeri.

“Inilah penyebab mulai anjloknya harga sawit dan kemungkinan akan terus berlanjut di sejumlah daerah di Indonesia yang menghasilkan CPO sawit,” terangnya.

Disisi lain SPI mengakui, penggunaan lahan dengan status Hak Guna Usaha (HGU) oleh pihak swasta sering terjadi pelanggaran di industri sawit di Indonesia, seperti setoran pajak kepada negara, kesejahteraan buruh, dan perizinan.

“Kekayaan hutan kita di Indonesia hilang dengan mengubah hutan menjadi tanaman monokultur oleh korporasi,” bebernya.

Hendry mengatakan, korporasi terbukti telah menggusur tanah petani, masyarakat adat dan rakyat. Sumber air berupa rawa-rawa, sungai dan sumber-sumber air lainnya dampak investasi swasta.

“Selama ini swasta menguasai bisnis produksi strategis seperti CPO hingga Bahan Bakar Minyak (BBM) berbasis minyak nabati. Jadi Badan Usaha Milik Negara (BUMN) meski memiliki porsi tersebut dan pemerintah tegas terhadap pelanggaran korporasi,” tegasnya. (*)

 

error: Content is protected !!